Monday, January 16, 2017

Tentang Kekalahan-Kekalahan Besar Pep Guardiola



Kekalahan 4-0 dari Everton minggu (15/01) kemarin disebut-sebut adalah kekalahan terbesar yang pernah dirasakan oleh Pep Guardiola sepanjang karirnya sebagai pelatih di kompetisi domestik. 

Namun, Pep sempat beberapa kali mengalami kekalahan dengan jumlah skor yang terbilang cukup telak,  berikut ini adalah beberapa diantaranya : 

1. Bayern Munich 0-3 Borussia Dortmund. Bundesliga 12 April 2014

 

Bayern yang saat itu sudah memastikan diri menjadi juara Bundesliga gagal mempertahankan rekor kemenangan nya setelah dikalahkan Dortmund. Bayern di bawah asuhan Pep pun dipaksa menyerah tiga gol tanpa balas melalui aksi-aksi Henrikh Mkhitaryan, Marco Reus dan  Jonas Hofmann


2. Bayern Munich 0-4 Real Madrid. Semi final liga Champions  leg ke-2, 29 April 2014  


Pep menyebut kekalahan yang satu ini sebagai yang terburuk dalam karirnya!
Kekalahan (agregat) 5-0 dari Madrid juga tidak hanya mencoret Bayern dari gelaran Liga Champion, namun membuat banyak yang merasa bahwa Pep terlalu memaksakan filosofi "Posession" ke permainan Bayern 


3. Wolfsburg 4-1 Bayern Munich. Bundesliga, 30 Januari 2015 


Bas Dost dan Kevin De Bruyne masing-masing mencetak sepasang gol untuk "melumat" Bayern kala itu. "Winter break" membuat fisik para pemain Bayern seperti kedodoran. Bayern pada akhirnya tetap juara liga pada musim itu sebelum akhirnya Pep memutuskan hijrah ke Manchester City 

4. Barcelona 4-0 Manchester City. Liga Champion 19 Oktober 2016


City dibuat babak belur oleh Barca malam itu melalui hattrick Leo Messi dan satu gol dari Neymar. Seakan melengkapi malam kelam itu, Claudio Bravo yang juga bersama Pep "reuni" dengan mantan klub nya tersebut mendapatkan kartu merah!  

Friday, December 16, 2016

Selamat Berjuang Garuda, Kami Selalu Mendukung



Hari ini (17/12) Timnas Indonesia akan menjalani sekali lagi laga final piala AFF, setelah sebelumnya sempat melakoni laga final sebanyak empat kali dan selalu gagal meraih kemenangan.  

Kegagalan demi kegagalan yang seharusnya menjadikan bahan masukan dan evaluasi bagi Timnas untuk bisa berbenah dan memperbaiki penampilan serta menganalisa kekuatan lawan, namun nyatanya kita selalu kalah lagi dan lagi.

Tapi hari ini, kembali seperti hari-hari laga final lainnya, jutaan pendukung Garuda kembali akan mengharapkan hasil akhir yang sama, Indonesia Juara!


Rindu Juara  

Ya, seluruh masyarakat Indonesia, baik yang suka atau tidak terlalu suka kepada sepakbola memang rasanya sudah sangat rindu akan merasakan kegembiraan dan adrenaline memenangkan sebuah kompetisi sepakbola level internasional.


Bagaimana tidak, terakhir kali timnas dan seluruh masyarakat merasakan atmosfer juara level internasional adalah tahun 1991, yang berarti sudah 25 tahun lalu.

kala itu timnas memenangkan laga final sepakbola Sea Games 1991, setelah memenangkan pertandingan sengit melawan Thailand lewat laga adu pinalti.

Kini, setelah 4 final berhasil dilewati, malam ini timnas akan melakoni laga final ke-5 dalam perjalanan keikut sertaan nya dalam gelaran kompetisi sepakbola Asia tenggara tersebut.

Malam yang Tepat Untuk Menjadi Juara

Malam ini, hampir dipastikan jutaan mata akan terpaku ke layar kaca, jutaan tangan akan tertadah memohon doa, jutaan mulut akan terbuka untuk mengucapkan jutaan mantera, untuk satu harapan yang sama; Indonesia Juara!

Menjadi juara memang bukan perkara yang mudah, namun bukan juga perkara yang susah. Modal awal sudah digenggam, harapan dan doa sudah dikumandangkan, berbagai alasan sudah dikesampingkan dan kini tinggal satu hal yang harus dipastikan; Disiplin dan Kerja Keras!

Ayo Timnas Indonesia, sekarang saatnya, sudah pasti sekarang saatnya, selamat bertanding, selamat berjuang, kami selalu mendukung. 


Friday, August 7, 2015

With or Without De Gea

Musim 2015-2016  sudah di mulai !

Minggu ini, perasaan fans masing-masing klub sepakbola Eropa tentunya sangat beragam, ada yang sangat puasa dan gembira menyambut musim ini, karena pembelian-pembelian pemain baru yang fantastis, ada juga yang merasa kurang puas dengan pergerakan transfer musim panas ini dan malahan ada juga yang biasa-biasa saja.

Untuk fans Setan Merah Manchester United perasaan nya tentu cukup roller coaster. Pertama, mereka pasti cukup Happy dengan pergerakan Ed Woodward, Chairman Man United yang juga menjadi kunci dari proses transfer pemain musim lalu dan musim ini.

Datangnya nama-nama baru seperti Bastian Schweinsteiger, Memphis Depay, Mateo Darmian, Morgan Schneiderlin sampai Sergio Romero tentu saja merupakan suntikan tenaga-tenaga baru untuk masing-masing lini.

Namun diwaktu bersamaan Man United juga harus kehilangan Angel Di Maria, winger asal Argentina yang memilih untuk hanya semusim saja bertahan di Old Traford dan memutuskan hengkang ke Paris.

Ada juga Victor Valdes yang sepertinya sudah habiss karirnya di klub ini seiring dengan konflik yang menimpanya bersama Louis Van Gaal akibat menolak dimainkan di tim cadangan.

Lalu ada satu nama lagi yang nampaknya akan menjadi kehilangan besar musim ini bagi fans Red Devils, penjaga gawang David De Gea dikabarkan akan segera menyelesaikan proses kepindahan nya menuju Real Madrid.

Kabar ini memang sempat hilang menyusul hadirnya De Gea di tur pra musim Man United dan juga batalnya Sergio Ramos yang dikabarkan akan menjadi Barteran De Gea ke Real Madrid.

Namun kemarin, Louis Van Gaal dalam wawancara persiapan menuju pertandingan melawan Totenham Hotspurs mengatakan bahwa De Gea tidak akan bermain, bukan karena cidera atau sakit. De Gea tidak dimainkan karena disebut akan sulit berkonsentrasi terkait dengan isu liar transfer nya ke Real Madrid

'I don't know the solution with De Gea,' said the Dutchman.

'I cannot lead this process, I can only watch and observe and that is what I'm doing. I'm not participating in it.

'But he shall not play. I don't have any concerns. He won't start the game.

'I think a human being is more than only a player. He cannot manage it. You have to wait and see who plays.

'We have seen in training and matches and he is not the De Gea of last year. He tries, he does his upmost best, but it is a difficult situation.

Demikian ungkap si pelatih seperti dilansir dari Dailymail. 


Lalu pertanyaannya, siapa yang akan berada dibawah mistar gawang Man United?

Andes Lidergaard seperti diketahui sudah dinyatakan akan dijual oleh klub dan juga sedang dalam masa cidera.

Victor Valdes juga tidaka akan mungkin diturunkan mengngat masalah yang sudah dibuatnya

Sergio Romero nampaknya akan menjadi pilihan tepat, namun penjaga gawang Argentina ini tidak bermain di level klub sejak bulan Januari, sehingga akan dipertanyakan kebugaran dan juga kesiapan nya.

Satu-satunya pilihan tersisa adalah Sam Johnstone, kiper muda ini memang belum pernah bermain di level kompetitif bersama Man United, akan tetapi musim lalu bermain full bersama klub League One Preston dan juga terlibat dalam empat pertandingan Pra Musim Man United.

Situasi ini bisa menyulitkan memang, mengingat selama ini De Gea merupakan andalan dan juga penyelamat di mistar gawang Setan Merah. Bagaimana kelanjutan cerita transfer ini? Akan kita ketahui bersama sebelum batas akhir transfer musim panas 1 September 2015 nanti.



Tuesday, April 29, 2014

Sebuah Ujian Bernama David Moyes




Jika satu tahun lalu anda mendengar kata Manchester United, apa yang akan terngiang di kepala anda? Tim besar, gol-gol kemenangan dimenit akhir, juara liga inggris, jago comeback dan tim yang hampir selalu finish di posisi empat besar.

Bagi anda yang menggemari Manchester United mulai dari awal 90′an, pastinya akan terbiasa dengan hal tersebut diatas. Bukan memihak, tapi memang seperti itulah gambaran dominasi Manchester United di era Alex Ferguson.

Seperti diketahui, sempat terseok-seok diawal rezim, tapi kemudian Sir Alex bersama MU secara konsisten mendapatkan satu buah gelar hampir di setiap tahunnya.

Namun jika saat ini anda mendengar kata Manchester United, apa yang akan segera terbayang? Bisa jadi adalah sebuah klub yang terlihat panik, kalah dari tim-tim gurem, kalah di kandang sendiri, gagal masuk Champions League hingga berujung pada pemecatan si pelatih saat ini David Moyes.

Melihat sedikit ke belakang, waktu pertama kali Moyes dipilih oleh Alex Ferguson sebagai suksesor nya fans United sebenarnya sudah terpecah mengenai hal ini.

Sebagian menganggap apa yang dilakukan Sir Alex sudah tepat, mengingat Moyes adalah seorang pelatih yang mampu membuat klub liga Inggris Everton mampu selalu bertahan di liga premiere dengan budget belanja yang minim.

Selain itu, Moyes juga dikenal sangat menaruh perhatian pada perkembangan pemain muda dan gemar memberi kesempatan kepada mereka.

Namun sebagian lain nya menganggap bahwa Sir Alex sudah salah langkah karena menunjuk Moyes yang merupakan pelatih tim papan tengah, minim pengalaman di level internasional dan tanpa prestasi.
Penunjukan Moyes oleh Alex Ferguson menunjukan betapa kuatnya sosok Sir Alex di klub, sungguh sebuah pemandangan yang langka di kultur sepakboola saat ini, terutama untuk sebuah “Brand” seperti Manchester United.

Sudahlah, rasanya sudah terlampau banyak artikel, blog atau serial twit yang menggambarkan bagaimana hancurnya MU ditangan David Moyes saat ini.

Tapi khusus bagi para penggemar United diatas tadi, sadarkah anda bahwa pada saat seperti inilah kesetiaan dan sikap loyal terhadap sebuah klub sedang mengalami ujian?

Beberapa tahun belakangan ini, seberapa seringkah anda mendapati klub anda kalah dari klub papan bawah? Atau melihat lelucon “meme” mengenai MU di social media?

Pernahkah beberapa tahun lalu anda kena “tag” massal di facebook, path atau twitter yang isi nya meledek pelatih/pemain MU?

Seberapa seringkah Senin anda akan terasa menyebalkan karena harus menerima kenyataan bergadang hingga larut dan harus menelan kekalahan?

Belum lagi celaan dari teman sekolah, rekan kerja dan lainnya.

Bisa dipastikan sangat amat jarang, karena itu tadi, secara reguler tim ini memang mempunyai karakter pemenang, juara dan petarung hingga menit-menit akhir, karakter yang terlihat seperti hilang delapan bulan belakangan.

Sebuah ujian bernama David Moyes telah mendatangi klub Manchester United musim ini. Sebuah ujian yang memecah belah suara fans, sebuah ujian yang memberikan perasaan seperti sedang menaiki roller coaster disetiap akhir pekannya, sebuah ujian yang membuat gemas seluruh fans mereka diseluruh dunia, sebuah ujian yang menguji kesetiaan fans kepada klubnya

Dalam kalimat awal pidato perpisahannya, Sir Alex mengatakan :
"First of all, it’s a thank you to Manchester United. Not just the directors, not just the medical staff, not just the coaching staff, the players or the supporters, it’s all of you. You have been the most fantastic experience of my life"

Yang kurang lebih menyatakan bahwa bukan hanya satu faktor dalam klub yang membuatnya sukses selama itu di MU, namun semua unsur saling melengkapi, Jajaran direksi, staff, pelatih, pemain dan juga suporter.
Lalu SIr Alex juga mengingatkan bahwa selama karirnya di United, Ia pun mengalami masa sulit dan dukungan semua unsur tadilah yang menguatkannya, dukungan kepada seorang manager adalah sebuah ha penting.
"I’d also like to remind you that when we had bad times here, the club stood by me, all my staff stood by me, the players stood by me. Your job now is to stand by our new manager. That is important"
Menarik menanti komentar Ferguson mengenai pencopotan Moyes. Jika dilihat dari petikan-petikan diatas, sepertinya Sir Alex akan ada di posisi mempertahankan Moyes dan memberikannya lebih banyak waktu untuk sebuah Proses.



Tapi apa daya, sepakbola modern saat ini memang tidak familiar dengan kata proses.
Sepakbola modern yang didalamnya terdapat unsur saham gabungan, hutang, merk dagang dan juga sponsorship. Unsur-unsur yang jelas belum kentara atau malahan tidak ada pada awal awal rezim Ferguson dulu.

Begitulah, beruntunglah anda para penggemar United yang pernah melewati masa ujian ini bersama-sama. Bukan berarti masalah lalu terpecahkan dengan hengkangnya seorang Moyes. Tentu saja tugas berat akan menunggu siapapun pengganti Moyes, terutama di era Sepakbola modern saat ini.


Terima kasih David !

Tuesday, February 26, 2013

Sesekali Barca Memang Butuh Kekalahan

Tidak ada yang tidak setuju bahwa nama Barcelona sangat dominan beberapa musim belakangan ini di Liga Spanyol, bahkan Eropa. Catatan menunjukan bahwa dimusim ini Barca baru mengalami satu kali kekalahan dari total seluruh laga (seluruh kompetisi)  yang digelar dimarkas mereka, Nou Camp.

Yang membuatnya semakin menjadi drama adalah bahwa klub yang selalu memberi kado kekalahan dikandang mereka tak lain adalah seteru abadi mereka, Real Madrid.

Malam tadi dua gol dari Cristiano Ronaldo dan satu buah dari Raphael Varane seakan membuktikan bahwa sampai saat ini, paling tidak dari mulai musim lalu, hanya Real Madrid lah tim yang mampu mengalahkan <em>Blaugrana</em> dikandang mereka.

Kekalahan terakhir Barca di Camp Nou terjadi pada Bulan April 2012 lalu di matchday ke 35 Liga Primera Spanyol, dimana saat itu Madrid mampu mengalahka mereka dengan skor 1-2.

Tapi, ada sisi positif dari kekalahan yang dialami oleh Barcelona malam tadi, bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah klub tidak pernah kalah dalam setiap pertandingan yang dilakoni? membosankan dan kurang membuat Deg-degan baik bagi para pendukungnya maupun pendukung tim lawan.

Sepakbola pada akhirnya adalah tentang menang dan kalah. Yang menang akan menikmati kemenangan mereka seraya mencoba bertahan dijalur positif, sementara untuk pihak yang kalah pasti akan termotivasi untuk keluar dari bayang-bayang kekalahan dan kembali ke Track Positif.

Akhir pekan besok laga El-Classico akan kembali digelar di markas Madrid, bukan tidak mungkin Barca yang kalah malam tadi akan tampil "beringas" dan kembali ke jalur mereka, jalur kemenangan. Sementara Madrid harus buru-buru melalui malam-malam indah mereka, karena mengalahkan Barca sekali lagi musim ini akan jadi kado manis ditengah merosotnya peringkat siputih di kompetisi La Liga

Wednesday, February 13, 2013

Oh, David De Gea ...



"Karena menahan bola menggunakan tangan terlalu Mainstream, maka Big Dave menggunakan kakinya !"

Fans Manchester United diseluruh belahan jagat raya ini pasti setuju bahwa tadi malam David De Gea adalah Sang Penyelamat bagi Setan Merah.

Berlebihan? Tidak sama sekali, lihat saja bagaimana dengan respons dan refleks serta penempatan posisi yang sangat cepat dan tepat Ia beberapa kali mampu menghalau dan menangkap bola yang diarahkan ke gawangnya.

Menit ke-5 Coentrao yang berdiri bebas melepaskan tembakan keras dan rendah ke pojok kanan gawang David.  David yang sedikit berada diposisi tanggung, kemudian bergerak cepat kearah bola, menepisnya, mengenai tiang dan keluar.

Kemudian yang paling fenomenal rasanya adalah penyelamatannya di menit ke-56 saat De Gea berhadapan dengan Coentrao (lagi). Dengan refleks yang luar biasa hebat, Ia menendang seperti "akrobat" bola untuk menjauh dari gawangnya, bukan menghalau dengan tangan, tapi dengan kaki !


Malam itu kiper kelahiran Madrid tersebut tercatat melakukan total 7 penyelamatan dari 8 tembakan ke gawang oleh Madrid. Dan lebih dari itu, David berhasil memberikan rasa aman bagi rekan-rekannya.

Sejauh ini aksi akrobatiknya menghalau bola Coentrao malam tadi bisa jadi adalah yang paling OK sepanjang musim ini, mengingat dari tekanan dan konteks pertandingan. Sementara untuk musim lalu, rasa-rasanya aksinya menghalau tendangan bebas Juan Matta dikompetisi Premiere League lah pilihannya.


Perjalanan liga Champion masih sangat panjang, Leg ke-2 akan dimainkan dikandang setan merah, walaupun hasil imbang dengan 1 buah gol away cukup dianggap melegakan, namun peluang kedua tim masih sangat terbuka.

Mudah-mudahan David akan tetap secara konsisten tampil baik sebagai penjaga gawang United dan yang paling penting adalah, De Gea harus mampu terus membuat rekan-rekannya merasa aman.

*Ditulis oleh pemilik akun twiter @fernandi_a