Friday, August 9, 2013
Tuesday, February 26, 2013
Sesekali Barca Memang Butuh Kekalahan
Tidak ada yang tidak setuju bahwa nama Barcelona sangat dominan beberapa musim belakangan ini di Liga Spanyol, bahkan Eropa. Catatan menunjukan bahwa dimusim ini Barca baru mengalami satu kali kekalahan dari total seluruh laga (seluruh kompetisi) yang digelar dimarkas mereka, Nou Camp.
Yang membuatnya semakin menjadi drama adalah bahwa klub yang selalu memberi kado kekalahan dikandang mereka tak lain adalah seteru abadi mereka, Real Madrid.
Malam tadi dua gol dari Cristiano Ronaldo dan satu buah dari Raphael Varane seakan membuktikan bahwa sampai saat ini, paling tidak dari mulai musim lalu, hanya Real Madrid lah tim yang mampu mengalahkan <em>Blaugrana</em> dikandang mereka.
Kekalahan terakhir Barca di Camp Nou terjadi pada Bulan April 2012 lalu di matchday ke 35 Liga Primera Spanyol, dimana saat itu Madrid mampu mengalahka mereka dengan skor 1-2.
Tapi, ada sisi positif dari kekalahan yang dialami oleh Barcelona malam tadi, bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah klub tidak pernah kalah dalam setiap pertandingan yang dilakoni? membosankan dan kurang membuat Deg-degan baik bagi para pendukungnya maupun pendukung tim lawan.
Sepakbola pada akhirnya adalah tentang menang dan kalah. Yang menang akan menikmati kemenangan mereka seraya mencoba bertahan dijalur positif, sementara untuk pihak yang kalah pasti akan termotivasi untuk keluar dari bayang-bayang kekalahan dan kembali ke Track Positif.
Akhir pekan besok laga El-Classico akan kembali digelar di markas Madrid, bukan tidak mungkin Barca yang kalah malam tadi akan tampil "beringas" dan kembali ke jalur mereka, jalur kemenangan. Sementara Madrid harus buru-buru melalui malam-malam indah mereka, karena mengalahkan Barca sekali lagi musim ini akan jadi kado manis ditengah merosotnya peringkat siputih di kompetisi La Liga
Yang membuatnya semakin menjadi drama adalah bahwa klub yang selalu memberi kado kekalahan dikandang mereka tak lain adalah seteru abadi mereka, Real Madrid.
Malam tadi dua gol dari Cristiano Ronaldo dan satu buah dari Raphael Varane seakan membuktikan bahwa sampai saat ini, paling tidak dari mulai musim lalu, hanya Real Madrid lah tim yang mampu mengalahkan <em>Blaugrana</em> dikandang mereka.
Kekalahan terakhir Barca di Camp Nou terjadi pada Bulan April 2012 lalu di matchday ke 35 Liga Primera Spanyol, dimana saat itu Madrid mampu mengalahka mereka dengan skor 1-2.
Tapi, ada sisi positif dari kekalahan yang dialami oleh Barcelona malam tadi, bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah klub tidak pernah kalah dalam setiap pertandingan yang dilakoni? membosankan dan kurang membuat Deg-degan baik bagi para pendukungnya maupun pendukung tim lawan.
Sepakbola pada akhirnya adalah tentang menang dan kalah. Yang menang akan menikmati kemenangan mereka seraya mencoba bertahan dijalur positif, sementara untuk pihak yang kalah pasti akan termotivasi untuk keluar dari bayang-bayang kekalahan dan kembali ke Track Positif.
Akhir pekan besok laga El-Classico akan kembali digelar di markas Madrid, bukan tidak mungkin Barca yang kalah malam tadi akan tampil "beringas" dan kembali ke jalur mereka, jalur kemenangan. Sementara Madrid harus buru-buru melalui malam-malam indah mereka, karena mengalahkan Barca sekali lagi musim ini akan jadi kado manis ditengah merosotnya peringkat siputih di kompetisi La Liga
Wednesday, February 13, 2013
Oh, David De Gea ...
"Karena menahan bola menggunakan tangan terlalu Mainstream, maka Big Dave menggunakan kakinya !"
Fans Manchester United diseluruh belahan jagat raya ini pasti setuju bahwa tadi malam David De Gea adalah Sang Penyelamat bagi Setan Merah.
Berlebihan? Tidak sama sekali, lihat saja bagaimana dengan respons dan refleks serta penempatan posisi yang sangat cepat dan tepat Ia beberapa kali mampu menghalau dan menangkap bola yang diarahkan ke gawangnya.
Menit ke-5 Coentrao yang berdiri bebas melepaskan tembakan keras dan rendah ke pojok kanan gawang David. David yang sedikit berada diposisi tanggung, kemudian bergerak cepat kearah bola, menepisnya, mengenai tiang dan keluar.
Kemudian yang paling fenomenal rasanya adalah penyelamatannya di menit ke-56 saat De Gea berhadapan dengan Coentrao (lagi). Dengan refleks yang luar biasa hebat, Ia menendang seperti "akrobat" bola untuk menjauh dari gawangnya, bukan menghalau dengan tangan, tapi dengan kaki !
Malam itu kiper kelahiran Madrid tersebut tercatat melakukan total 7 penyelamatan dari 8 tembakan ke gawang oleh Madrid. Dan lebih dari itu, David berhasil memberikan rasa aman bagi rekan-rekannya.
Sejauh ini aksi akrobatiknya menghalau bola Coentrao malam tadi bisa jadi adalah yang paling OK sepanjang musim ini, mengingat dari tekanan dan konteks pertandingan. Sementara untuk musim lalu, rasa-rasanya aksinya menghalau tendangan bebas Juan Matta dikompetisi Premiere League lah pilihannya.
Perjalanan liga Champion masih sangat panjang, Leg ke-2 akan dimainkan dikandang setan merah, walaupun hasil imbang dengan 1 buah gol away cukup dianggap melegakan, namun peluang kedua tim masih sangat terbuka.
Mudah-mudahan David akan tetap secara konsisten tampil baik sebagai penjaga gawang United dan yang paling penting adalah, De Gea harus mampu terus membuat rekan-rekannya merasa aman.
*Ditulis oleh pemilik akun twiter @fernandi_a
Aguero dan Sindrom Musim ke-2
Tidak butuh waktu lama bagi
seorang Sergio Kun Aguero untuk menjelma menjadi pahlawan baru bagi para para
penggemar Manchester City diseluruh dunia.
Bukan hanya karena penampilan apiknya dimusim pertamanya bersama si Manchester Biru, tapi juga karena gol yang diciptakan di masa Injury time saat laga melawan QPR di Etihad Stadium musim lalu, adalah gol yang juga kemudian menentukan gelar juara Premiere league bagi City
Yang lebih mencengangkan lagi,
itu adalah gelar pertama City setelah 44 tahun !
Penampilan Kun dimusim pertamanya bersama City memang terbilang cukup memuaskan, dari total 34 pertandingan di Premiere League ia memasukan 23 gol dan mencatatkan namanya di tiga besar pencetak gol terbanyak musim 2011-2012 dibawah Robin Van Persie (30 Gol) dan Wayne Rooney (27 Gol).
Sama sekali bukan hasil yang buruk untuk musim pertama diliga sekompetitif dan sesibuk liga Inggris.
Namun musim ini jumlah gol Kun
jauh menurun, hingga saat ini ia sudah total memainkan total 20 pertandingan di
premiere league dan baru bisa mencetak 9 gol.
Penampilannya diatas lapangan pun cenderung tidak semenyeramkan musim lalu, musim ini Aguero relatif lebih mudah diredam.
Lalu kemudian ada tanda tanya besar, apakah Ia sedang mengalami apa yang disebut dengan Sindrom Musim Ke-2?
Apa itu Sindrom musim ke-2? Ungkapan ini sebenarnya mulai populer di kancah premiership (1992) yang menunjukan bahwa ada trend kemunduran prestasi klub semusim setelah berhasil meraih tiket promosi.
Klub tersebut akan tampil baik saat musim promosi pertamanya, lalu kemudian akan berjuang mati-matian untuk lepas dari zona degradasi dimusim berikutnya.
Namun kemudian, media dan para analis sepakbola Inggris sana mulai melabel sindrom ini bisa merasuk ke para pemain.
Musim lalu, penyrang asal Meksiko Javier Hernandez sempat gencar diberitakan terkena sindrom ini menyusul penampilan kurang impresifnya dimusim keduanya bersama Manchester United. Padahal dimusim sebelmnya Ia tampil luar biasa.
Aguero sendiri menyadari ada penurunan dari penampilannya musim ini, seperti dikutip dari telegraph , Ia juga mengakui bahwa musim ini CIty direpotkan oleh beberapa cidera yang secara bergantian menimpa pilar mereka, mulai dari Nasri, Silva, Kompany, Clichy, Micah Richards dan dirinya sendiri.
Walau mengaku itu bukan alasan, namun hal tersebut memang diakui Aguero sangat mempengaruhi performa City dan juga dirinya.
Lalu apa penyebab Sindrom musim kedua ini? Atau apakah sindrom ini benar-benar ada?
Mengenai penyebabnya Secara
Non-Tekhnis belum ada jawaban pasti, namun secara analisa beberapa faktor bisa
dijadikan penyebab.
Khusus untuk para penyerang, penyebabnya bisa jadi adalah bahwa para pemain belakang klub lawan sudah mempelajari gaya bermain pemain baru.
Berbeda dengan musim pertama, saat itu para pemain belakang masih buta akan gaya bermain seorang pemain baru.
Penyebab selanjutnya adalah boleh jadi adanya beban tinggi yang dipikul si pemain. Tentunya akan semakin besar harapan dari klub maupun penggemar kepada si pemain pada musim ke-2 nya pasca sudah tampil hebat dimusim pertamanya.
Penyebab terakhir bisa jadi adalah tekanan media. Ya, di Inggris memang sepakbola sudah menjadi semacam komoditi hiburan yang selalu bisa dijual. Jika tidak kuat menghadapi tekanan ini bukan mustahil para pemain akan kaget dan bukan tidak mungkin mempengaruhi penampilan mereka diatas lapangan.
Khusus untuk kasus Aguero, permasalahan keluarganya disebut-sebut juga menjadi pengaruh kemunduran penampilannya di atas rumput. Seperti diketahui bahwa Istri dan anaknya sudah meninggalkan Manchester menuju kediamannya di Madrid.
Aguero menanggapi dingin issue ini ketika dikait-kaitkan dengan performanya mengolah si kulit bundar. Namun Ia mengakui bahwa berpisah dengan puteranya, Ben, adalah sesuatu yang menyakitkan.
Terakhir, apakah Aguero sudah benar-benar habis musim ini? Masih ada 12 laga tersisa di Liga Premiere, masih ada kesempatan baginya membuktikan bahwa dia tidak sedang terserang sindrom musim kedua.
Oleh: pemilik akun twitter @fernandi_a
Subscribe to:
Comments (Atom)



